13
Banyak yang Merasa Kehilangan BSH
Filed Under (Uncategorized) by admin on 13-03-2010
Budiman S Hartoyo adalah sosok muda yang garang, sastrawan yang membawa warna daerahnya di awal tahun 70-an, Banyak yang masih bisa mengenang lelaki dengan rambut panjang dengan perawakan tegap walau tidak terlalu besar badanya. Sugiono MP salah satu kawan juniornya menceritakan itu. Menurut Sugiono saat itu bersama sastrawan dan wartawan lainya BSH nama akrabnya saat bergabung dengan Majalah Tempo asuhan Gunawan S Muhamad (GM) saat itu, menjadi salah satu tempatnya bertanya dan belajar.
Di masa pensiunya sebagai wartawan Tempo BSH tetap menggambarkan sosok yang tegas, rendah hati dan sensitif terhadap berbagai ketidak beresan, terutama di tubuh wartawan sendiri, Sebutan bodrex yang diambil dari merek dagang obat sakit kepala sering dilontarkan untuk menggambarkan wartawan yang tidak profesional dan tidak bermartabat, baik di Jakarta maupun di daerah-daerah. Sampai akhir hayatnya keinginan untuk membenahi jati diri wartawan Indonesia tetap menjadi obsesinya yang belum bisa diwujudkan.
Melalu PWI Reformasi, wadah organisasi profesi wartawan yang didirikan tahun 2000 bersama banyak tokoh pers dan tokoh nasional lainya BSh terus melakukan upaya untuk mewujudkan cita-citanya menghadirkan wartawan yang profesional, independen dan bermartabat. Kendala yang sangat besar justeru datangnya dari pelaku media sendiri, baik dari wartawan maupun lembaga usaha media. Salah satu yang cukup membanggakan adalah kegigihanya yang tak pernah menyerah untuk mewujudkan mimpinya tadi, walau rintangan dan kekecewaan setiap saat mendera .
Dari kiprahnya kita melihat begitu banyak kalangan yang mengenal BSH, terlebih di lingkungan wartawan sendiri. Dari Aceh sampai Papua, kita bisa menangkap ucapan bela sungkawa atas kepergian orang yang untuk sebagian menyebutnya Buya juga ada yang memanggil Begawan—sah-sah saja karena setiap orang memiliki persepsi yang belum tentu sama tentang sosok seseorang. Tetapi jelas bahwa banyak yang merasa kehilangan atas kepergian BSH. Kita bisa melihat di milis-milis dan juga melalui jejaring sosial, menggambarkan luasnya pergaulan BSH semasa hidupnya.
PWI Reformasi organisasi profesi wartawan yang didirikan dan dibesarkanya, setidaknya kini berusia 20 tahun. Pada awalnya didirikan sebagai upaya untuk menyatukan gerakan reformasi di tubuh PWI, organisasi wartawan yang semasa kekuasaan Orde Baru merupakan satu-satunya organisasi wartawan dan menurut pandangan beberapa pihak ikut bertanggungjawab atas kelanggengan rejim represip militerisme itu, karena seharusnya pers menjadi anjing penjaga penyalahgunaan kekuasaan.
Tentu saja kita telah banyak merasa kehilangan orang-orang yang memberikan dedikasinya untuk membangun pers nasional yang profesional, independen dan bermartabat tadi, sebut saja nama Mochtar Lubis dengan Indonesia Rayanya, serta nama-nama besar lainya. BSH lebih dikenal di kalangan jurnalis dan sastrawan. Pergaulanya cukup luas, bukan hanya dari generasi seangkatanya, tetapi meintasi berbagai usia antar generasi. Kita bisa menyimak bagamana BSH juga mau untuk meladeni diskusi dengan PemredTribun Banten Ade Hajari yang usianya hampir sepertiga dari BSH. Itulah BSH yang tak mengenal strata dan tak rikuh dengan generasi muda.
Wajar saja jika banyak wartawan dan sastrawan yang merasa kehilangan atas kepergianya. Salah satunya wartawan Antara yang tinggal di Papua Wilem Yobie yang cukup akrab BSH mengatakan bahwa bagi kita yang penting adalah meneruskan cita-cita luhur BSH untuk masa depan jurnalisme di tanah air, yang menurut pengamatan BSH semasa hidup sangat memprihatinkan, karena lemahnya idealisme wartawan, turunya profesionalisme dan independensi sementara modal dan kekuasaan terus menggerus jati diri pers nasional semakin intens dan masiv.

Berikut saya muat ulang Statemen PWI Reformasi tahun 2000 (10 tahun lalu)